Fandri 77

Selamat Datang di Blog saya,

Animasi Bergersk

Kesehatan Gigi

kesehatan gigi .

Karang gigi

karang gigi.

Karies gigi

karies gigi

Odontetomi

odontektomi.

Kesehatan Gigi umum

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 17 Desember 2019

Pelayanan Kesehatan di Jakarta Seharusnya Fokus kepada Program Preventif dan Promotif

Suasana jalannya acara Dialog Publik oleh LSM Terawulan yang bertajuk ‘Mewujudkan Masyarakat Partisipatif terhadap Masalah Pelayanan Kesehatan di Jakarta’beberapa waktu yang lalu di Jakarta Media Center.

Jakarta – Pelayanan kesehatan di Jakarta yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan DKI seharusnya lebih fokus kepada upaya preventif dan promotif ketimbang penangangan seperti yang terjadi saat ini. Hal tersebut dipaparkan oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Slamet Budiarto saat dirinya tampil sebagai pembicara dalam acara Dialog Publik oleh LSM Terawulan yang bertajuk ‘Mewujudkan Masyarakat Partisipatif terhadap Masalah Pelayanan Kesehatan di Jakarta’beberapa waktu yang lalu di Jakarta Media Center.

hobby

1. Traveling




2. Menyanyi
Hasil gambar untuk menyanyi

3. Berorganisasi





PROFIL







BIODATA                      :
NAMA                                  : ELISABET FANDRIANA BOTA
NAMA PANGGILAN        : FANDRI
ALAMAT                           : LAMAHORA BARAT  RT 010/ RW 001– KELURAHAN LEWOLEBA TIMUR, KECAMATAN NUBATUKAN KABUPATEN LEMBATA – NTT
HOBBY                               : MENYANYI,
BERORGANISASI DAN TRAVELING



CERDIK MENGATASI KERDIL (Stunting)

Pembangunan manusia di bidang kesehatan adalah salah satu amanat Undang-undang Dasar 1945. Oleh karena itu Negara harus hadir secara maksimal mengatasi masalah kesehatan.  Sejak tahun 2017, isu pembangunan kesehatan makin fokus ke arah stunting atau kerdil. Bagaimana tidak, stunting atau kerdil adalah ujung dari masalah gizi kronis. Kerdil tidak terjadi tiba-tiba dalam masa yang relatif pendek. Ia adalah benang panjang yang kusut.
Dampak kerdil tidak hanya pada fisik, yakni tinggi badan yang tidak sesuai usia sebaya, melainkan sebagai indikasi kurangnya asupan gizi yang mempengaruhi volume otak. Pada gilirannya, akan mengganggu indikator standar kecerdasan. Dengan kata lain, anak dengan stunting cenderung bermasalah pada kecerdasan.
Generasi dengan kemampuan kognitif yang lemah akan menyumbang masalah, bukan solusi. Justru terhadap masalah inilah, solusi harus dicari, ditemukan dan dipecahkan. Pada tahun 2018 100 Kabupaten dan 34 Propinsi telah ditetapkan sebagai lokasi prioritas penurunan masalah kekerdilan. Angka ini bertambah dua kali pada tahun ini yaitu sebanyak 60 lokus kabupaten.
Propinsi Nusa Tenggara Timur juga menjadi bagian dari area dengan prevalensi stunting mencengangkan yakni 52,46% pada tahun 2018 dari total populasi yang diukur. Angka ini tentu menjadi masalah yang tidak mungkin dilimpahkan pada bidang kesehatan saja. Semua sektor harus bangkit melawan bersama.
Mengapa bersama? Salah satu masalah utama generasi kerdil masih terwarisi adalah karena kurangnya asupan gizi. Bicara asupan gizi tentu tidak terlepas dari penyediaan pangan dan kecukupan ekonomi. Nah pada ranah ini, unit kesehatan tentu tidak akan mampu berperang sendiri. Bahkan dengan ekonomi yang cukup sekalipun, belanja gizi keluarga belum tentu menempati tempat prioritas. Ditengah persaingan akan penampilan dan eksistensi yang didukung sosial media, kebutuhan akan pangan dapat bertukar urutan.
Masalah gizi pada stunting hanyalah salah satu penyumbang problem kekerdilan. Masalah kecacingan yang masih tinggi pada masyarakat kebanyakan juga menjadi pendonor tingginya angka kekerdilan atau stunting. Selain itu lingkungan yang kurang bersih dan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) akan menggerogoti masalah kesehatan masyarakat secara komunitas yang berpuncak pula pada stunting.
Hasil gambar untuk gambar ibu hamil makan


Dalam beragam penyumbang masalah kekerdilan di Indonesia umumnya dan Nusa Tenggara Timur khususnya, baiklah jika kita mengambil fokus terbesar yakni masalah gizi. Ibarat berperang, maka kita perlu menetukan sasaran vital demi melemahkan sang lawan. Pada kasus ini, gizi adalah organ vital stunting tumbuh dan merajalela.
Meskipun demikian, sebelum bicara jumlah dan pola asupan gizi serta ketersediaan pangan, kita perlu bicara gigi dan rongga mulut sebagai pintu gerbang utama masuknya zat gizi ke tubuh. Kerusakan pada lapisan gigi akan mengganggu fungsi pengunyahan dan pola makan. Dengan gangguan ini, tentu akan mengurangi volume makanan yang masuk ke tubuh yang pada gilirannya akan mengurangi asupan gizi. Lingkaran masalah ini akan terus berulang: gigi berlubang – ganggungan pola makan – kurangnya asupan gizi -  kerdil.
Sesungguhnya generasi yang terlahir dengan kondisi stunting akan sulit disembuhkan atau terhapus status kerdilnya. Maka fokus yang cerdik adalah mempersiapkan ibu hamil atau wanita usia subur agar berada dalam status gizi yang baik. Dengan status gizi yang optimal dan pola asuh yang baik, dapat dipastikan generasi yang dilahirkan nanti adalah generasi sehat.
Oleh karena itu mempersiapkan ibu hamil dengan status kesehatan gigi yang baik adalah cara bijak mempersiapkan generasi. Perlu diingat wanita pada masa hamil mengalami gangguan keseimbangan hormonal yang juga mempengaruhi psikis. Dampak yang dapat ditimbulkan antara lain; gusi mudah meradang dan kejadian gigi berlubang meningkat. Sekali lagi, hal ini akan mengulang rantai stunting : gigi berlubang – ganggungan pola makan – kurangnya asupan gizi -  kerdil. Maka Terapis Gigi bicara stunting adalah penting!












BPJS Kesehatan Berbenah Meningkatkan Kualitas Pelayanan

 Hasil gambar untuk gambar logo bpjs
Asuransin Kesehatan berupa Jaminan Kesehatan  telah menjadi kebutuhan masyarakat baik pekerja muransi Kaupun non-pekerja. Kesehatan merupakan kebutuhan dasar untuk melakukan segala aktifitas. Oleh karena itu, penting sekali menjaga kesehatan. Disamping itu segala resiko yang mengganggu kesehatan juga tidak dapat dihindarkan.
Prestasi dan Program BPJS Kesehatan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) merupakan suatu lembaga yang mempunyai program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui fasilitas Kartu Indonesia Sehat (KIS). Tugas BPJS Kesehatan mencakup lembaga finansial non-Bank dan pelayanan kesehatan. Diharapkan seluruh masyarakat Indonesia di tahun 2019 nanti diharapkan menjadi peserta JKN-KIS karena merupakan amanat Undang- Undang No.40 tahun 2004.  
Peran dan tugas BPJS Kesehatan dalam program JKN-KIS  sendiri yaitu merangkul kepesertaan masyarakat, dimana per November 2018 sudah tercatat 205 juta peserta, mengumpulkan iuran dan membelanjakan iuran untuk pelayanan kesehatan. BPJS Kesehatan mempunyai peran memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang kepesertaan JKN-KIS dimana menjadi peserta akan terlindungi dari sakit berbiaya mahal, membantu orang lain dan menjadi warga negara yang taat sesuai UU NO.4 tahun 2004. Dasar hukum kewajiban kepesertaan JKN-KIS bagi masyarakat meliputi:
Untuk saat ini BPJS Kesehatan menyandang predikat terbaik untuk penanganan pengaduan publik kategori kementerian dan lembaga dari peserta kompetisi di seluruh Indonesia. I
Masalah dan Penanggulangan di BPJS Kesehatan
Kepesertaan BPJS Kesehatan dapat dilakukan melalui 3 cara yaitu dengan dibantu pembayaran oleh pemerintah, pembayaran yang dikoordinir perusahaan dan peserta mandiri. BPJS Kesehatan memiliki konsep "Dengan Gotong Royong Semua Tertolong". Namun selain itu BPJS Kesehatan menghadapi kendala seperti nilai premi yang kecil, sehingga tidak cukup menutupi biaya pengobatan seluruh peserta BPJS Kesehatan. 
Disamping itu, ada pula peserta PBPU (peserta bukan penerima upah) yang menjadi anggota dan membayar secara mandiri hanya beberapa kali, namun setelah selesai mendapat tindakan atau pelayanan kesehatan dengan biaya yang besar, peserta tersebut menghentikan pembayaran iuran. Hal inilah yang membuat terjadinya defisit di tubuh BPJS Kesehatan. 
Dalam rangka untuk menanggulanginya, pemerintah telah berencana menaikkan premi iuran, selain itu telah dibentuk kaderisasi untuk memantau kepesertaan agar terus berkelanjutan dan pembatasan beberapa penyakit berat yang tidak bisa ditanggung BPJS Kesehatan seperti HIV dan hepatitis.
Kondisi atau masalah defisit yang terjadi di tubuh BPJS Kesehatan salah satunya diharapkan dapat diatasi dengan kehadiran para kader. Kader JKN-KIS yang ada adalah individu yang mempunyai hubungan kemitraan untuk membantu fungsi BPJS Kesehatan dalam suatu wilayah tertentu. 
Peran para kader JKN-KIS ini lebih diprioritaskan untuk masyarakat peserta mandiri yang fungsinya untuk sosialisasi dan edukasi kepada calon peserta, pendaftaran peserta baru, pemberian informasi, penerimaan pengaduan serta pengingat dan pengumpulan iuran. Dengan adanya kader JKN-KIS ini, peserta akan diingatkan untuk membayar tunggakannya. 
Menurut Dr. Dyah Waluyo mengatakan bahwa program BPJS Kesehatan ini sangat bagus untuk masyarakat dan harus dipertahankan. Oleh karena itu, segala kendala dan hambatan perlu segera diatasi demi perbaikan pelayanan yang berkesinambungan. Dengan sepenuh hati, BPJS Kesehatan terus berinovasi dalam meningkatkan pelayanan. Program pemerintah dengan konsep "Gotong Royong" ini perlu kesadaran dan dukungan seluruh lapisan masyarakat untuk ikut serta dan disiplin agar tercipta keadilan yang merata dibidang kesehatan. 




HUBUNGAN KARIES GIGI DENGAN STUNTING

Hasil gambar untuk gambar stunting dengan karies gigiHasil gambar untuk gambar stunting dengan karies gigi

sumber gambar  sumber gambar


Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang diawali proses demineralisasi. Survei Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2010 menunjukkan prevalensi penduduk Indonesia yang menderita karies gigi sebesar 80% - 90% dimana diantaranya adalah golongan anak. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi nasional masalah gigi-mulut sebesar 31,1%, mengalami peningkatan dari tahun 2009 sebesar 29,7%2. Peningkatan prevalensi karies gigi sebagai akibat meningkatnya konsumsi gula dan kurangnya pemanfaatan flour. Karies gigi dapat mempengaruhi nafsu makan dan intake gizi sehingga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan yang pada akhirnya akan mempengaruhi status gizi anak yang berimplikasi pada kualitas sumber daya. Status gizi merupakan faktor yang dapat menentukan kualitas sumber daya manusia. Karies gigi merupakan penyakit yang dapat mengganggu kondisi gizi anak sehingga dapat menyebabkan masalah gizi. Tingkat konsumsi macronutrient dan micronutrient tidak hanya berhubungan dengan status gizi tetapi juga dapat berhubungan dengan tingkat keparahan karies gigi. Karies gigi menyebabkan terganggunya fungsi pengunyahan (mastikasi) yang dapat mempengaruhi asupan makan dan status gizi. Gigi yang sakit akan mempengaruhi status gizi melalui mekanisme terganggunya fungsi pengunyahan. Konsumsi makanan tersebut dengan frekuensi sering dan berulang ulang akan menyebabkan pH plak dibawah normal dan menyebabkan demineralisasi enamel dan terjadilah pembentukan karies gigi.
 Karies gigi yang terjadi pada anak akan menyebabkan munculnya rasa sakit sehingga anak akan menjadi malas makan dan juga akan menyebabkan tulang disekitar  gigi menjadi terinfeksi. Apabila terjadi kerusakan pada tahap yang berat atau sudah terjadi abses maka gigi akan dapat tanggal. Anak yang kehilangan beberapa giginya tidak dapat makan dengan baik kecuali makanan yang lunak. Seseorang dengan alat pengunyahan yang tidak baik akan memilih makanan sesuai dengan kekuatan kunyahnya sehingga pada akhirnya akan menyebabkan malnutrisi
Stunting atau status gizi pendek adalah salah satu bentuk gizi kurang yang diukur berdasarkan standar deviasi referensi WHO tahun 2005. Stunting dapat dikukur dengan indikator pengukuran tinggi badan terhadap umur TB/U yang ditandai dengan pertumbuhan tinggi badan yang terhambat. Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Kejadian balita stunting (pendek) merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia.
Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk. Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadI 29,6% pada tahun 2017. Prevalensi balita pendek di Indonesia cenderung statis. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas tahun 2007 menunjukkan prevalensi balita pendek di Indonesia sebesar 36,8%. Pada tahun 2010, terjadi sedikit penurunan menjadi 35,6%. Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu menjadi 37,2%. Prevalensi balita pendek selanjutnya akan diperoleh dari hasil Riskesdas tahun 2018 yang juga menjadi ukuran keberhasilan program yang sudah diupayakan oleh pemerintah. Asupan zat gizi pada balita sangat penting dalam mendukung pertumbuhan sesuai dengan grafik pertumbuhannya agar tidak terjadi gagal tumbuh (growth faltering) yang dapat menyebabkan stunting. Pada tahun 2017, 43,2% balita di Indonesia mengalami defisit energi dan 28,5% mengalami defisit ringan. Untuk kecukupan protein, 31,9% balita mengalami defisit protein dan 14,5% mengalami defisit ringan. Stunting dapat meningkatkan resiko terjadinya karies karena berkurangnya fungsi saliva sebagai sebagai buffer, pembersih, anti pelarut, dan anti  bakteri rongga mulut. Gigi dan mulut merupakan investasi bagi kesehatan seumur  hidup.                   


Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang diawali proses demineralisasi. Survei Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2010 menunjukkan prevalensi penduduk Indonesia yang menderita karies gigi sebesar 80% - 90% dimana diantaranya adalah golongan anak. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi nasional masalah gigi-mulut sebesar 31,1%, mengalami peningkatan dari tahun 2009 sebesar 29,7%2. Peningkatan prevalensi karies gigi sebagai akibat meningkatnya konsumsi gula dan kurangnya pemanfaatan flour. Karies gigi dapat mempengaruhi nafsu makan dan intake gizi sehingga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan yang pada akhirnya akan mempengaruhi status gizi anak yang berimplikasi pada kualitas sumber daya. Status gizi merupakan faktor yang dapat menentukan kualitas sumber daya manusia. Karies gigi merupakan penyakit yang dapat mengganggu kondisi gizi anak sehingga dapat menyebabkan masalah gizi. Tingkat konsumsi macronutrient dan micronutrient tidak hanya berhubungan dengan status gizi tetapi juga dapat berhubungan dengan tingkat keparahan karies gigi. Karies gigi menyebabkan terganggunya fungsi pengunyahan (mastikasi) yang dapat mempengaruhi asupan makan dan status gizi. Gigi yang sakit akan mempengaruhi status gizi melalui mekanisme terganggunya fungsi pengunyahan. Konsumsi makanan tersebut dengan frekuensi sering dan berulang ulang akan menyebabkan pH plak dibawah normal dan menyebabkan demineralisasi enamel dan terjadilah pembentukan karies gigi.
 Karies gigi yang terjadi pada anak akan menyebabkan munculnya rasa sakit sehingga anak akan menjadi malas makan dan juga akan menyebabkan tulang disekitar  gigi menjadi terinfeksi. Apabila terjadi kerusakan pada tahap yang berat atau sudah terjadi abses maka gigi akan dapat tanggal. Anak yang kehilangan beberapa giginya tidak dapat makan dengan baik kecuali makanan yang lunak. Seseorang dengan alat pengunyahan yang tidak baik akan memilih makanan sesuai dengan kekuatan kunyahnya sehingga pada akhirnya akan menyebabkan malnutrisi
Stunting atau status gizi pendek adalah salah satu bentuk gizi kurang yang diukur berdasarkan standar deviasi referensi WHO tahun 2005. Stunting dapat dikukur dengan indikator pengukuran tinggi badan terhadap umur TB/U yang ditandai dengan pertumbuhan tinggi badan yang terhambat. Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Kejadian balita stunting (pendek) merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia.
Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk. Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadI 29,6% pada tahun 2017. Prevalensi balita pendek di Indonesia cenderung statis. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas tahun 2007 menunjukkan prevalensi balita pendek di Indonesia sebesar 36,8%. Pada tahun 2010, terjadi sedikit penurunan menjadi 35,6%. Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu menjadi 37,2%. Prevalensi balita pendek selanjutnya akan diperoleh dari hasil Riskesdas tahun 2018 yang juga menjadi ukuran keberhasilan program yang sudah diupayakan oleh pemerintah. Asupan zat gizi pada balita sangat penting dalam mendukung pertumbuhan sesuai dengan grafik pertumbuhannya agar tidak terjadi gagal tumbuh (growth faltering) yang dapat menyebabkan stunting. Pada tahun 2017, 43,2% balita di Indonesia mengalami defisit energi dan 28,5% mengalami defisit ringan. Untuk kecukupan protein, 31,9% balita mengalami defisit protein dan 14,5% mengalami defisit ringan. Stunting dapat meningkatkan resiko terjadinya karies karena berkurangnya fungsi saliva sebagai sebagai buffer, pembersih, anti pelarut, dan anti  bakteri rongga mulut. Gigi dan mulut merupakan investasi bagi kesehatan seumur  hidup.                   


Sabtu, 16 November 2019

Perawatan Gigi Untuk Pasien Lansia


Perawatan Gigi Untuk Pasien Lansia
Silahkan Bagikan Tulisan-Artikel ini :  0  0
Saat usia mulai bertambah kekebalan tubuh akan semakin berkurang sehingga rentan terhadap berbagai penyakit. Masalah ini bisa ditimbulkan akibat dari perawatan gigi yang tidak benar sehingga menyebabkan banyak masalah terhadap anggota tubuh lainnya. Apabila seorang lansia mengalami masalah dengan giginya menyebabkan sulit untuk mengunyah makanan yang juga mengakibatkan penurunan berat badan dan kekurangan energy. Lansia memerlukan perawatan khusus pentingnya kesehatan mulut. Cara merawat gigi lansia :

Memiliki jadwal rutin kunjungan ke dokter merupakan langkah penting untuk hidup sehat. Umur boleh lanjut, kesehatan juga harus terus dijaga, sikat gigi, flossing, mengurangi makan-makanan yang mengandung gula dan mengunjungi dokter gigi untuk pemeriksaan rutin. Dokter gigi menyediakan alat perawatan gigi yang lengkap untuk lansia, sehingga semua orang mendapat erawatan mulut yang mereka butuhkan dari dokter gigi yang berkualitas. Kesehatan gigi yang baik mengarah pada peningkatan kesehatan secara keseluruhan terutama diusia lanjut itulah sebabnya mengapa perawatan gigi lansia sangat penting. Dengan jumlah penduduk yang memiliki umur lansia lebih banyak dibandingkan generasi sebelumnya adalah penting bahwa perawatan gigi dimasukkan dalam salah satu factor penting untuk kesehatan mereka Perhatian yang paling baik adalah perawatan rutin sehingga mereka dapat mencegah atau mengurangi segala jenis penyakit yang ditimbulkan. Banyak lansia yang telah kehilangan giginya karena tanggal, namun bisa menggantinya dengan memasang gigi palsu untuk kenyamanan dan juga untuk penampilan belaka. Usia lansia adalah usia rentan penyakit, kurangnya menjaga kesehatan mulut untuk pemeliharaan gigi dan kesehatan mulut kurang baik, menyebabkan komplikasi diabetes tersebut penyerapan menghambat insulin. Menurut Dr Michael Pilon, di usia lanjut sebaiknya melakukan perawatan gigi dan mulut secara rutin dan benar karena hal itu sangat penting untuk kebugaran tubuhnya, dan untuk mencegah berbagai penyakit yang ditimbulkan akibat kurangnya menjaga kesehatan serta perawatan gigi dan mulut pada lanjut usia.